
Oleh: Noval Maliki
Bagi anda yang menyukai travelling atau hanya sekedar jalan sore beberapa tahun lalu, mungkin menempatkan Jogja dalam deretan paling atas sebagai prioritas untuk di kunjungi. Kondisi masyarakatnya yang terpelajar dan bersahabat, lalu lintasnya yang relatif tenang, suasana kotanya yang never-ending dan temaram lampu malam yang menghiasi kota nan sulit dilupakan. Tidak mengherankan apabila banyak musisi yang mengabadikannya dalam berbagai tembang yang melegenda dan akrab di telinga.
Namun jalanan Jogjakarta sudah banyak berubah beberapa tahun terakhir. Meningkatnya aktivitas pedagang kaki lima yang menggunakan ruas-ruas trotoar sehingga sedikit mengganggu pejalan kaki, padatnya arus lalu lintas yang diakibatkan bertambahnya volume kendaraan bermotor yang tidak terkontrol dan satu hal lagi yang unik adalah tumbuh suburnya “polisi tidur” di berbagai jalan mulai kelas arteri hingga di gang-gang sempit.
Hebatnya lagi pembuatannya biasa dilakukan atas inisiatif masyarakat sendiri entah lewat dana swadaya atau individu. Bentuknya pun bermacam-macam, ada yang hanya memiliki ketinggian satu-dua sentimeter, namun tidak sedikit pula mencapai lima sentimeter bahkan lebih. Tentu saja hal ini selain dapat merusak kendaraan, bahkan membahayakan para pengendara kendaraan roda dua, namun juga mengurangi kenyamanan dalam berkendara.
Bagi anda yang menyukai travelling atau hanya sekedar jalan sore beberapa tahun lalu, mungkin menempatkan Jogja dalam deretan paling atas sebagai prioritas untuk di kunjungi. Kondisi masyarakatnya yang terpelajar dan bersahabat, lalu lintasnya yang relatif tenang, suasana kotanya yang never-ending dan temaram lampu malam yang menghiasi kota nan sulit dilupakan. Tidak mengherankan apabila banyak musisi yang mengabadikannya dalam berbagai tembang yang melegenda dan akrab di telinga.
Namun jalanan Jogjakarta sudah banyak berubah beberapa tahun terakhir. Meningkatnya aktivitas pedagang kaki lima yang menggunakan ruas-ruas trotoar sehingga sedikit mengganggu pejalan kaki, padatnya arus lalu lintas yang diakibatkan bertambahnya volume kendaraan bermotor yang tidak terkontrol dan satu hal lagi yang unik adalah tumbuh suburnya “polisi tidur” di berbagai jalan mulai kelas arteri hingga di gang-gang sempit.
Hebatnya lagi pembuatannya biasa dilakukan atas inisiatif masyarakat sendiri entah lewat dana swadaya atau individu. Bentuknya pun bermacam-macam, ada yang hanya memiliki ketinggian satu-dua sentimeter, namun tidak sedikit pula mencapai lima sentimeter bahkan lebih. Tentu saja hal ini selain dapat merusak kendaraan, bahkan membahayakan para pengendara kendaraan roda dua, namun juga mengurangi kenyamanan dalam berkendara.



